Sunday, 24 February 2008
Thursday, 17 January 2008
Keluar dari Kolonialisme Harga Bandwidth Internet
Rene L Pattiradjawane
Isu penting pada tahun 2008 adalah kehadiran dan kesiapan jejaring internet, yang murah dan terjangkau oleh kebanyakan kita, menyongsong semakin pesatnya pertumbuhan dan perkembangan digitalisasi yang mulai memperkenalkan Web 2.0 dengan aplikasi dan platform yang lebih luas dan lengkap.
Selama beberapa tahun terakhir ini kita masih tetap saja dihantui teka-teki dengan satu pertanyaan, kenapa harga akses jejaring internet di negara tetangga, seperti Malaysia, Thailand, atau Singapura, bisa memberikan harga langganan yang lebih terjangkau (kalau tidak mau dibilang murah) dibandingkan dengan di Indonesia yang relatif lebih mahal?
Kita pun masih terus berkutat dan saling menyalahkan satu sama lain tentang mahalnya akses jaringan internet di Indonesia. Para penyedia jasa akses jaringan internet bolak-balik mengeluh kalau harga bandwidth yang dibelinya terlalu mahal dibandingkan dengan negara-negara tetangga Asia Tenggara.
Di sisi lain, ketika Fastnet milik KabelVision memberikan harga akses pita lebar internet secara murah, jangkauannya pun terbatas. Ini, misalnya, karena Kota Jakarta terbagi atas kapling-kapling bak wilayah mafia sehingga layanan murah Fastnet tidak bisa masuk wilayah Bintaro, misalnya.
Harga mahal akses jaringan internet di Indonesia disebabkan banyak faktor, bukan karena harga akses bandwidth saja. Ketidakmampuan pemerintah, dalam hal ini Departemen Komunikasi dan Informatika untuk mengatur tata laksana penyelenggaraan akses internet murah, juga disebabkan akses jaringan internet ke luar negeri sekarang ini hanya dikuasai oleh Indosat dan Telkom yang menjual dengan margin keuntungan yang sangat besar.
Pokok persoalan bagi Fastnet dalam mengembangkan akses internet kecepatan tinggi dengan harga yang terjangkau, sekitar Rp 100.000 tanpa batas untuk kecepatan sampai dengan 384 kbps, adalah infrastruktur yang tidak tersedia secara merata di berbagai kota di Indonesia. Artinya, akses tanpa batas yang terjangkau masih akan tetap langka bagi kebanyakan orang untuk mengakses jaringan internet dari rumah.
Gelar kabel
Untuk tahun 2008, sepertinya ada titik harapan dengan dibangunnya jaringan serat optik bawah laut Jakarta-Singapura yang diperkirakan akan selesai dan bisa dimanfaatkan pada Agustus mendatang oleh PT NAP Info Lintas Nusa yang sudah menyelesaikan titik cable landing station di Singapura, Batam, dan Jakarta yang berada di Pantai Mutiara.
Pemerintah belum lama ini mengeluarkan lisensi penyelenggara operator kabel netral, menyediakan akses jaringan serat optik bawah laut. Selain kepada PT NAP Info Lintas Nusa, lisensi juga diberikan kepada PT Mora Telematika Indonesia (Moratelindo, lihat juga www.http:// www.cepat.net.id), dan PT Asiakomnet Multimedia (http:// www.asiakom.net/). Sampai sekarang, baik Moratelindo maupun Asiakomnet belum terdengar melakukan aktivitasnya.
Patrick Adhiatmadja, Senior Vice President NAP Info Lintas Nusa, dalam percakapan dengan Kompas pekan lalu mengatakan, perusahaannya akan menjadi yang pertama sebagai neutral cable carrier yang menggelar kabel serat optik bawah laut sepanjang 1.055 km yang menghubungkan Jakarta-Singapura.
Menurut Adhiatmadja, dalam kurun lima tahun mendatang investasi untuk menggelar kabel serat optik bawah laut yang terbilang besar dalam rupiah akan kembali, dan Indonesia masih memiliki potensi besar untuk bisa memenuhi permintaan akses jejaring berbasis IP (Internet Protocol) yang masih besar. "Perusahaan sekelas Verizon yang memiliki pelanggan global yang beroperasi di Jakarta, misalnya, akan memanfaatkan akses ini karena perusahaan nasional yang menyediakan akses ini tidak mampu untuk memenuhi kebutuhan mereka," jelasnya.
Ia mengatakan, NAP Info sudah menyelesaikan titik cable landing station di Batam, dan bekerja sama dengan Matrix Networks Pte Ltd di Singapura, sedang menyelesaikan tahap titik akses di Pantai Mutiara, Jakarta. "Untuk tiga bulan ke depan kita akan menyelesaikan gelar kabel serat optik bawah laut sepanjang 900 km untuk saling menghubungkan branching unit yang ada di Teluk Jakarta dan Batam," tambah Adhiatmadja.
Kolonialisme harga
Produk yang akan disebut sebagai Matrix Cable System (MCS) dengan panjang 1.055 km ini juga siap terhubung ke Australia untuk bisa melayani permintaan akses kecepatan tinggi menggunakan kabel serat optik bawah laut. Kabel serat optik bawah laut yang akan segera beroperasional ini dirancang dengan kapasitas 2,5 TB (terabyte) per detik dan kapasitas terpasang pada peluncuran Agustus mendatang akan mencapai 60 Gb per detik.
Patrick Adhiatmadja sendiri tak mau menyebut berapa harga jual yang akan diterapkan ketika jaringan kabel serat optik bawah laut ini sudah terhubung ke jaringan internet dunia. Namun, berdasarkan perbincangan, harga per megabyte yang ditawarkan akan jauh lebih murah daripada yang sekarang ditawarkan pemegang kendali harga bandwidth ke luar negeri sekarang ini.
Dengan tergelarnya akses kabel serat optik bawah laut ini akan ada alternatif pilihan harga bandwidth internasional yang lebih rasional ketimbang akses jaringan internet internasional yang sekarang tersedia dan dimonopoli oleh perusahaan tertentu. Sekarang ini terkesan ada "penjajahan harga akses internet", sebagai salah satu penyebab mahalnya akses internet di Indonesia.
Globalisasi dan jejaring internet memang menghadirkan kolonialisme baru yang menjadi penghambat dalam upaya membentuk pembangunan ekonomi nasional berbasis teknologi informasi. Di tengah tidak adanya strategi nasional yang tidak jelas dalam memanfaatkan kemajuan teknologi komunikasi informasi, kita tidak pernah tahu apakah akses jejaring yang jadi bagian penting dalam kehidupan modern ini dijual secara memadai atau tidak.
Di sisi lain, struktur jaringan yang tersedia pun tidak pernah dimanfaatkan maksimal, belum lagi pola tata niaga simpang siur di mana penyelenggara kabel jaringan juga ikutan memasuki pasaran konsumen, menyebabkan kemajuan teknologi komunikasi informasi tidak pernah menjadi engine of economic growth, memberikan peluang kepada perusahaan kecil dan menengah untuk berkembang.
Kehadiran kabel serat optik bawah laut yang digelar PT NAP Info Lintas Nusa setidaknya memberikan alternatif baru untuk keluar dari kolonialisme harga bandwidth internasional yang seharusnya dinikmati oleh siapa saja secara terjangkau, terutama untuk mendorong perbaikan pendidikan, usaha kecil menengah, dan sebagainya.
Menggelar kabel serat optik bawah laut merupakan sebuah upaya yang membutuhkan dana besar dan tepat waktu karena meningkatnya aktivitas penggelaran kabel sendiri serta sedikitnya sumber daya yang mampu untuk melakukan pekerjaan ini. Melalui cable landing station di Pantai Mutiara (atas), Jakarta, yang digelar PT NAP Info Lintas Nusa, menggunakan kapal khusus berbendera Panama (kiri), diharapkan tersedia akses jaringan internet yang memadai dan terjangkau oleh siapa saja.
Isu penting pada tahun 2008 adalah kehadiran dan kesiapan jejaring internet, yang murah dan terjangkau oleh kebanyakan kita, menyongsong semakin pesatnya pertumbuhan dan perkembangan digitalisasi yang mulai memperkenalkan Web 2.0 dengan aplikasi dan platform yang lebih luas dan lengkap.
Selama beberapa tahun terakhir ini kita masih tetap saja dihantui teka-teki dengan satu pertanyaan, kenapa harga akses jejaring internet di negara tetangga, seperti Malaysia, Thailand, atau Singapura, bisa memberikan harga langganan yang lebih terjangkau (kalau tidak mau dibilang murah) dibandingkan dengan di Indonesia yang relatif lebih mahal?
Kita pun masih terus berkutat dan saling menyalahkan satu sama lain tentang mahalnya akses jaringan internet di Indonesia. Para penyedia jasa akses jaringan internet bolak-balik mengeluh kalau harga bandwidth yang dibelinya terlalu mahal dibandingkan dengan negara-negara tetangga Asia Tenggara.
Di sisi lain, ketika Fastnet milik KabelVision memberikan harga akses pita lebar internet secara murah, jangkauannya pun terbatas. Ini, misalnya, karena Kota Jakarta terbagi atas kapling-kapling bak wilayah mafia sehingga layanan murah Fastnet tidak bisa masuk wilayah Bintaro, misalnya.
Harga mahal akses jaringan internet di Indonesia disebabkan banyak faktor, bukan karena harga akses bandwidth saja. Ketidakmampuan pemerintah, dalam hal ini Departemen Komunikasi dan Informatika untuk mengatur tata laksana penyelenggaraan akses internet murah, juga disebabkan akses jaringan internet ke luar negeri sekarang ini hanya dikuasai oleh Indosat dan Telkom yang menjual dengan margin keuntungan yang sangat besar.
Pokok persoalan bagi Fastnet dalam mengembangkan akses internet kecepatan tinggi dengan harga yang terjangkau, sekitar Rp 100.000 tanpa batas untuk kecepatan sampai dengan 384 kbps, adalah infrastruktur yang tidak tersedia secara merata di berbagai kota di Indonesia. Artinya, akses tanpa batas yang terjangkau masih akan tetap langka bagi kebanyakan orang untuk mengakses jaringan internet dari rumah.
Gelar kabel
Untuk tahun 2008, sepertinya ada titik harapan dengan dibangunnya jaringan serat optik bawah laut Jakarta-Singapura yang diperkirakan akan selesai dan bisa dimanfaatkan pada Agustus mendatang oleh PT NAP Info Lintas Nusa yang sudah menyelesaikan titik cable landing station di Singapura, Batam, dan Jakarta yang berada di Pantai Mutiara.
Pemerintah belum lama ini mengeluarkan lisensi penyelenggara operator kabel netral, menyediakan akses jaringan serat optik bawah laut. Selain kepada PT NAP Info Lintas Nusa, lisensi juga diberikan kepada PT Mora Telematika Indonesia (Moratelindo, lihat juga www.http:// www.cepat.net.id), dan PT Asiakomnet Multimedia (http:// www.asiakom.net/). Sampai sekarang, baik Moratelindo maupun Asiakomnet belum terdengar melakukan aktivitasnya.
Patrick Adhiatmadja, Senior Vice President NAP Info Lintas Nusa, dalam percakapan dengan Kompas pekan lalu mengatakan, perusahaannya akan menjadi yang pertama sebagai neutral cable carrier yang menggelar kabel serat optik bawah laut sepanjang 1.055 km yang menghubungkan Jakarta-Singapura.
Menurut Adhiatmadja, dalam kurun lima tahun mendatang investasi untuk menggelar kabel serat optik bawah laut yang terbilang besar dalam rupiah akan kembali, dan Indonesia masih memiliki potensi besar untuk bisa memenuhi permintaan akses jejaring berbasis IP (Internet Protocol) yang masih besar. "Perusahaan sekelas Verizon yang memiliki pelanggan global yang beroperasi di Jakarta, misalnya, akan memanfaatkan akses ini karena perusahaan nasional yang menyediakan akses ini tidak mampu untuk memenuhi kebutuhan mereka," jelasnya.
Ia mengatakan, NAP Info sudah menyelesaikan titik cable landing station di Batam, dan bekerja sama dengan Matrix Networks Pte Ltd di Singapura, sedang menyelesaikan tahap titik akses di Pantai Mutiara, Jakarta. "Untuk tiga bulan ke depan kita akan menyelesaikan gelar kabel serat optik bawah laut sepanjang 900 km untuk saling menghubungkan branching unit yang ada di Teluk Jakarta dan Batam," tambah Adhiatmadja.
Kolonialisme harga
Produk yang akan disebut sebagai Matrix Cable System (MCS) dengan panjang 1.055 km ini juga siap terhubung ke Australia untuk bisa melayani permintaan akses kecepatan tinggi menggunakan kabel serat optik bawah laut. Kabel serat optik bawah laut yang akan segera beroperasional ini dirancang dengan kapasitas 2,5 TB (terabyte) per detik dan kapasitas terpasang pada peluncuran Agustus mendatang akan mencapai 60 Gb per detik.
Patrick Adhiatmadja sendiri tak mau menyebut berapa harga jual yang akan diterapkan ketika jaringan kabel serat optik bawah laut ini sudah terhubung ke jaringan internet dunia. Namun, berdasarkan perbincangan, harga per megabyte yang ditawarkan akan jauh lebih murah daripada yang sekarang ditawarkan pemegang kendali harga bandwidth ke luar negeri sekarang ini.
Dengan tergelarnya akses kabel serat optik bawah laut ini akan ada alternatif pilihan harga bandwidth internasional yang lebih rasional ketimbang akses jaringan internet internasional yang sekarang tersedia dan dimonopoli oleh perusahaan tertentu. Sekarang ini terkesan ada "penjajahan harga akses internet", sebagai salah satu penyebab mahalnya akses internet di Indonesia.
Globalisasi dan jejaring internet memang menghadirkan kolonialisme baru yang menjadi penghambat dalam upaya membentuk pembangunan ekonomi nasional berbasis teknologi informasi. Di tengah tidak adanya strategi nasional yang tidak jelas dalam memanfaatkan kemajuan teknologi komunikasi informasi, kita tidak pernah tahu apakah akses jejaring yang jadi bagian penting dalam kehidupan modern ini dijual secara memadai atau tidak.
Di sisi lain, struktur jaringan yang tersedia pun tidak pernah dimanfaatkan maksimal, belum lagi pola tata niaga simpang siur di mana penyelenggara kabel jaringan juga ikutan memasuki pasaran konsumen, menyebabkan kemajuan teknologi komunikasi informasi tidak pernah menjadi engine of economic growth, memberikan peluang kepada perusahaan kecil dan menengah untuk berkembang.
Kehadiran kabel serat optik bawah laut yang digelar PT NAP Info Lintas Nusa setidaknya memberikan alternatif baru untuk keluar dari kolonialisme harga bandwidth internasional yang seharusnya dinikmati oleh siapa saja secara terjangkau, terutama untuk mendorong perbaikan pendidikan, usaha kecil menengah, dan sebagainya.
Menggelar kabel serat optik bawah laut merupakan sebuah upaya yang membutuhkan dana besar dan tepat waktu karena meningkatnya aktivitas penggelaran kabel sendiri serta sedikitnya sumber daya yang mampu untuk melakukan pekerjaan ini. Melalui cable landing station di Pantai Mutiara (atas), Jakarta, yang digelar PT NAP Info Lintas Nusa, menggunakan kapal khusus berbendera Panama (kiri), diharapkan tersedia akses jaringan internet yang memadai dan terjangkau oleh siapa saja.
Subscribe to:
Posts (Atom)