Liputan6.com, Bandung: Keberadaan geng motor tengah menjadi buah bibir. Munculnya berbagai kasus kekerasan oleh anggota geng motor di Kota Bandung dan daerah lainnya di Jawa Barat, telah menyita perhatian masyarakat. Pasalnya, apa yang mereka lakukan tidak lagi sekadar bentuk kenakalan para remaja, namun sudah menjurus ke arah tindakan kriminal, bahkan sampai ke tindak pidana pembunuhan.
Semua cerita yang menjadi momok menakutkan ini memang berawal dari Bandung. Ibu kota Jabar ini bisa dibilang sebagai tempat subur untuk tumbuh berkembangnya keberadaan geng-geng motor yang sudah ada sejak lebih dari 30 tahun silam. Sebut saja empat geng motor terbesar yang lahir di Bandung, yaitu Moonraker, XTC, GBR, dan Brigez. Tak cuma di Bandung, geng ini memiliki ribuan anggota yang tersebar di Cirebon, Garut, Tasikmalaya, Subang, Sumedang, hingga Sukabumi.
Niat awal berdirinya geng motor sebetulnya cukup mulia. Tujuannya tak lain menjalin persahabatan lewat minat yang sama, yakni gandrung pada sepeda motor. Lambat laun, senyampang makin besarnya jumlah anggota masing-masing kelompok, gesekan tak bisa dihindarkan. Di antara anggota antargeng kerap kali terjadi bentrokan fisik. Bahkan, warga biasa yang tak ada hubungan dengan geng motor pun kerap menjadi korban [baca: Teror Gangster Paris Van Java].
Bisa ditebak, keberadaan geng motor pun mulai membuat resah warga Kota Kembang dan kota-kota lainnya di Jabar. Jawaban terhadap perilaku geng motor yang tidak sehat itu pun datang dari pihak kepolisian. Bersama-sama dengan pihak sekolah, genderang perang mulai ditabuh sejak awal November silam. Penangkapan demi penangkapan pun dilakukan terhadap mereka yang selama ini menjadikan jalanan sebagai tempat menebar anarki [baca: Delapan Anggota Geng Motor Ditangkap].
Sunday, 18 November 2007
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
1 comment:
geng motor memang meressahkan
Post a Comment